Bermudah-mudah

Siapakah yang meriwayatkan hadits ini?

Apakah riwayat itu datang dari orang-orang yang tsiqah (terpercaya) pada agama dan ilmunya?

Atau ia berasal dari rawi yang di bawahnya sedikit?

Atau dari orang-orang yang kapasitasnya berada di bawah standar itu sedikit lagi?

Ataukah sebaliknya, riwayat itu datang dari para pembohong yang biasa berkata bohong?

Atau dari para pemalsu hadits atas nama Nabi Muhammad? 

Atau dari mereka yang jahil dalam hadits dan ilmunya sehingga riwayat ini keluar dari lisannya tanpa dia sengajakan hingga menjadi hadits-hadits palsu? 

Atau ia dari orang-orang yang fasiq? 

Atau dari orang-orang yang tidak dikernal pribadinya? 

Atau dibawakan orang-orang yang sering salah atau keliru dalam meriwayatkan hadits beliau?

Atau dari kalangan muslim yang dikenal sangat buruk dari sisi hafalannya?

(Rahmatan Lil Alamin karya Abdul Hakim Bin Amr Bidat -hafidhahullaahu ta'ala.VIII/219)

Sebegitu hati-hatinya para ulama Salaf dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih yang menjadi as Sunnah, wahyu ke dua setelah Kitabullaah al-Qur'an.

Lantas, masihkah kita bermudah-mudah melontarkan hujjah menurut akal kita semata untuk menghindar dari as Sunnah? 

Atau mengatakan 'it is okay for not doing it since it is sunnah'. 

Atau bahkan mengejek sunnah Rasulullaah shallallaahu alaihi wasalam?

Wal'iyadzubillaah..

0 komentar