Review Perawatan Di Klinik Skin Care



Kulit wajah merupakan isu yang sangat sensitif untuk wanita di segala usia. Walau banyak juga yang memiliki keberuntungan biologis dengan kulit yang putih mulus dan kadar minyak normal. Tapi untuk di daerah tropis dengan matahari yang selalu bersinar terik sepanjang tahun juga berbahaya kalau tidak dibarengi dengan pemakaian sun screen protection. Walau pigmen warna seseorang cenderung cerah, akan bahaya jika terus-menerus terpapar sinar matahari yang berakibat merah-merah pada kulit wajah. Bahayanya? Kalau kata dokter sih bisa kanker kulit, entah benar atau hanya menakut-nakuti agar produknya dibeli. Oh ya, tulisan ini bukan bermaksud untuk menjelekkan pihak manapun ataupun komersil produk apapun. Anggap saja review singkat dari saya sebagai konsumen. 

Kapan waktu mulai muncul masalah pada kulit?
Perubahan hormon pada wanita yang saya sendiri dan teman-teman sekitar saya (ketahuan gosip) rasakan adalah saat-saat puber, yaitu waktu-waktu pasca haid/menstruasi pertama kali. Hal pertama yang saya sendiri sangat rasakan adalah naiknya nafsu makan dan berat badan, saya menjadi gendut karena nafsu makan yang semakin besar padahal sebelumnya saya salah satu anak yang susah sekali disuruh makan dan ini berlangsung sampai saya lulus SMA. Perubahan bentuk rambut, ah ini tidak penting untuk dibahas :D. Perubahan nyata pada kulit wajah, sebelum menjadi abg (anak baru gede, padahal anak seusia SMP itu masih kecil juga >,<) tidak pernah ada masalah pada kulit wajah sama sekali yah wajar namanya juga masih kecil, mulai deh muncul bruntusan kecil-kecil pada kening, berlanjut muncul jerawat meradang pada bagian pipi. Mulai deh coba-coba pembersih wajah, saat itu pakai yang ada di supermarket saja sih, ibu menyarankan pakai produk Viva saja yang ringan dan saya menurut menggunakan rangkaian perawatannya, tapi satu hal yang salah, saat itu saya diberi pelembap sama ibu padahal setelah sekian tahun disadari wajah saya saat itu normal-berminyak. 

Kalau coba-coba produk di pasaran aman gak?
Nah, mulai deh iseng coba-coba icip-icip berhadiah produk yang lain. Pada masa itu lagi baru-barunya produk-produk di televisi yang menampilkan kulit putih -_- padahal sih dibohongin iklan mana ada kulit bisa bersih seketika, semua butuh proses. Gak cuma hubungan aja yang butuh proses, kan? *abaikan* Mulai deh coba-coba produk lain semacam Pond's. Sekali lagi bukan mau menjelekkan pihak manapun, tapi produk yang satu ini awalnya mungkin bersih, tapi ya banyak teman juga yang mengakui awalnya bersih namun selanjutnya jerawat bermunculan secara bergantian. Kenapa sih gak cinta aja yang muncul? -_- Tapi memang apapun produknya yang banyak di pasaran, in syaa Allaah aman lengkap dengan label halal dan nomor dari BPOM. Semua kembali pada masalah cocok/enggaknya pada kulit masing-masing orang. Kalau saya sih gak mempan terlanjur gak mempan. 

Sempat menggunakan krim racikan ga jelas.
Saat akhir kelas 3 SMP, ibu merekomendasikan rangkaian krim Mutiara, terdiri dari krim pagi (kuning), krim malam (putih), dan sabun yang berwujud padat. Nah, saat itu pemberitaan di media soal krim mengandung mercury, hydroquinon, dan lainnya belum gencar dan krim-krim laknat itu masih baru-baru bergentayangan di meja-meja rias anak gadis lugu. Gak perlu dijelaskan lagi ya soal produk ini, hasilnya cepat, kinclong, putih, ada efek glowing gitu. Tapi setelah kulit jenuh dengan pemakaian yang terus menerus, kulit malah jadi kusam, muncul lagi jerawat-jerawat lama, jerawat-lama-bersemi-kembali. 

After effect krim mengandung bahan berbahaya.
Saat saya kelas 1 SMA dan sepenuhnya lepas dari krim gak jelas itu, dari sini bencana mulai muncul. Wajah saya yang seharusnya normal berminyak, namun tidak berjerawat parah mulai menunjukkan tanda-tanda bencana. Bencana? Iya, muncul segala macam jenis jerawat, mulai dari bruntusan kecil-kecil pada kening, jerawat merah delima merekah pada pipi dan samping wajah, sampai bintik-bintik hitam agak besar yang menyumbat di pori-pori wajah. Itu terjadi selama setengah tahun lamanya, wajah saya seperti gak ada tempat lagi untuk tumbuh jerawat. Haruskah saya posting fotonya? Jangan ah ya, nanti jadi DP. Kalau kata dokter, itu jerawat hasil dari racun yang keluar bawah lapisan kulit yang tertimbun. 

Mulai mendatangi klinik kecantikan untuk Skin Care Klinik Rachel.
Saat itu saya bertempat tinggal di kota Bandar Lampung, klinik kecantikan belum setenar sekarang saat itu, hanya ada London Beauty Center (LBC) dan Klinik Rachel. Ayah saya membawa saya ke Klinik Rachel atas saran dari teman sekantornya. Saya dan Ibu saya sekaligus rutin kontrol ke sana sebulan sekali. Saat itu saya berjerawat parah dan tindakannya bagus saya kira karena saya tidak pernah ditangani untuk difacial, saya ditangani untuk chemical peeling yang lalu dipecahkan jerawatnya menggunakan sejenis jarum, dikeluarkan kotoran berbentuk pimple hitam agak besar pada beberapa pori kulit, dan lalu laser untuk anti iritasi. Saat perawatan sudah sangat terlihat hasilnya, kulit wajah mulus tapi memang tidak ada efek glowingnya karena bukan rangkaian perawatan pencerah kulit. Ibu saya bagaimana? Ibu saya terjerumus dalam lingkaran setan chemical peeling. Penanganan Facial - Chemical Peeling - Masker itu merupakan penanganan yang sangat umum di klinik kecantikan. Namun, karena ibu saya lebih sering peeling, kulitnya justru menipis dan mudah kelopek serta memerah.

Awal mengenal Chemical Peeling.
See? Penggunaan bahan kimia kuat walaupun sudah dengan adanya dokter tetap ada efek sampingnya. Chemical peeling menggunakan bahan kimia dengan asam yang kuat yang memberikan sensasi panas dan gatal saat penggunaan sehingga membersihkannya pun disemprot cairan kimia lainnya *entahlah saya bukan anak kimia* yang pasti cairannya itu juga panas di kulit dan lalu dengan handuk basah dingin, atau ekstrimnya lagi dengan es batu. Kebayang tersiksanya? Iya, chemical peeling memang menyiksa tetapi sekali sudah mengalami yakin deh nagih. Hasilnya? Kulit setingkat lebih cerah, jadi halus, dan kenyal. Karena peeling ini peremajaan kulit secara merata, kulit kita regenerasi selama 28 hari, namun tidak serentak dan hampir tidak terlihat kapan dan bagaimana ngelopeknya terkadang proses ini lama dan tidak merata secara alami. Nah, chemical peeling ini mengangkat lapisan kulit mati. Tapi apapun yang berlebihan itu ga baik. Mungkin peeling menyenangkan tapi 30 hari sekali, itu udah maksimal banget. Nanti dibahas lagi di bawah.

After effect perawatan Klinik Skin Care Rachel
Saat saya kuliah, saya hijrah ke kota Yogyakarta, di sana saya tidak menemukan klinik Rachel karena hanya ada di Jakarta selain di Lampung. Saat itu saya memang sudah stop dan tidak pernah datang kontrol lagi ke dokter. Wajah saya sih aman-aman saja, menggunakan produk Viva sebagai pembersih dan tidak menggunakan makeup, polosan saja namun menggunakan bedak dari Sariayu. Iya, kembali ke produk pasaran. Namun, semua berantakkan setelah saya kembali diperkenalkan produk Tje Fuk di akhir saya kelas 3 SMA. Ini lingkaran setan tanpa henti banget atau saya yang memang ndableg. Saya menggunakan produk Tje Fuk yang saya kira aman, sama seperti yang sudah-sudah, ada rangkaian krim pagi (kuning), krim malam (putih), dan sabun. Harga produk ini cenderung mahal pada saat itu. Hasilnya? Wajah saya kembali muncul jerawat-jerawat batu pada bagian pipi, hanya saja tidak separah dulu. Akhirnya saya hentikan dan kembali menggunakan produk pasaran yang saya anggap netral.

Kembali mengandalkan Skin Care, mulai mengenal Natasha Skin Care.
Saya mulai kebingungan, bagaimana cara untuk memberantas jerawat lama bersemi kembali ini? Ada konco kenthel saya yang sama-sama dari Lampung, satu perantauan di kos yang baru-baru menggunakan produk Natasha, dia malah rutin perawatan. Hasilnya jerawat ludes, kulis kinclong mulus dan ada efek glowingnya. Perempuan mana yang gak tertarik, tuh? Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke dokter di sana. Prosedurnya; mengisi form, wajahnya difoto, menunggu masuk ke ruang dokter, ngobrol cantik sama dokternya, dikasih resep, ditanya mau perawatan atau enggak, saya bilang enggak. Rangkaian produk perawatan yang diberi berupa krim pagi, krim malam, sabun, dan toner. 

Beralih ke Klinik London Beauty Center (LBC).
Selama di Natasha saya tidak pernah ada keluhan apa-apa, jerawat hilang, tapi memang tidak ada efek glowingnya karena saya malas perawatan. Harga di Natasha lumayan mencekik karena di atas harga mahasiswa, dengan harga krim hampir 100rb dan biaya perawatan facial lengkap bisa mencapai 250rb. Mencekik mahasiswa baru? Kalau saya sih iya ^^. Akhirnya karena iming-iming teman yang juga perawatan di dokter lain, yaitu LBC saya dengan polosnya tertarik, itu sekitar tahun 2011 dan saya masih menggunakannya sampai sekarang tahun 2014. Harga krimnya jauh lebih murah sekian puluh ribu walau sempat ada kenaikkan harga, perawatan facial lengkap dengan chemical peeling, masker, sand paper, dan laser habis biaya tidak sampai 200rb. Produk yang diberikan berupa krim pagi, krim malam, sabun, toner, saat jerawat sudah musnah saya meminta tirai dan saya naikkan menjadi sunblock serta meminta cleanser. Bisa juga membuat kartu SexY yang berupa diskon untuk perawatan di LBC hanya dengan memberikan fotokopi KTP dan kaartu pelajar untuk berlaku sampai kamu 5 tahun kuliah, berarti sekarang kartunya sudah kadaluarsa -_-, kontrolnya gratis. Prosedurnya hampir sama, mengisi form, fotokopi KTP dan kartu pelajar, menunggu masuk ke ruang konsultasi, menunggu masuk ke ruang perawatan untuk tindakan, dan bayar. Salam perawatan di LBC saya tidak pernah ada keluhan, jerawat hilang, tanpa efek glowing memang, tapi kulit kenyal dan mulus-mulus saja. Bekas jerawat berupa flek dan totol hitam hilang, namun untuk bekas jerawat berupa bopeng dan cekungan perlu perawatan khusus, di LBC namanya Micro atau apalah itu, saya pernah sekali menjalaninya, perawatan menggunakan bahan kimia dan alat khusus yang dioleskan dan dikerjakan hanya pada area yang bopeng. Serangkaian perawatan Micro ini menghabiskan biaya 350rb. Mahal, tapi worth it memang karena otot pipi dan mata seperti ditarik ke atas. 

Saya rutin perawatan di LBC sebulan sampai 3 bulan sekali. Rangkaian perawatan standar sih, facial, chemical peeling, sand paper, laser, dan masker. Terkadang tidak menggunakan masker kalau lagi kantong kering. Bisa juga chemical peeling yang lebih bagus dengan harga lebih mahal sedikit masih habis biaya tidak lebih dari 200rb. Sempat ditawarkan lebih bagus lagi dari chemical peeling, namun menghabiskan biaya 450rb dan saya ogah karena tidak ada masalah apa-apa pada kulit. 

Kondisi after effect chemical peeling.
Sebelumnya saya bahas chemical peeling itu nagih. Iya, nagih banget karena dengan proses pengangkatan kulit mati itu warna kulit jadi merata karena pergantian kulitnya merata, kulit jadi setingkat lebih cerah dan terasa kenyal. Awalnya saya hanya kalau lagi pingin saja perawatan apalagi sampai chemical peeling begitu karena sudah tidak ada jerawat lagi, paling cepat 3 bulan sekali, dan akhirnya sekarang sebulan sekali atau setiap sehabis beraktivitas travelling outdoor. Efeknya mulai saya rasakan, wajah saya jadi lebih sensitif, ketika udara panas atau terpapar sinar matahari, kulit wajah mengeluarkan minyak berlebih dan merona merah. Bukan hanya itu, kulit jadi berganti lebih cepat dan sangat terlihat, tidak lagi 28 hari, tetapi bisa seminggu sekali di bagian-bagian rawan iritasi seperti hidung. Nah, bagian rentan iritasi di wajah orang-orang berbeda, seperti ibu saya dibagian dagu dan sekeliling bibir, kalau saya di bagian belakang cuping hidung dan cuping hidung, ini bagian yang kalau saya perhatikan setelah chemical peeling memang lebih gatal dari bagian lainnya. Kalau sudah terasa iritasi begini, hindari penggunaan krim malam pada bagian iritasi dan mudah kelupas ini. Agak sebal sih karena dulu karena cenderung berminyak kulit saya tidak pernah mengelupas padahal saya sempat KKN di Dieng 2 tahun yang lalu dan beberapa kali mendaki gunung, karena keuntungan dari kulit berminyak saat terkena kondisi cuaca di gunung yang kering, kulit tidak kotor dan tidak mengelupas. Sekarang?

Sekarang mau bagaimana?
Sudah sebulan ini saya secara bertahap berlepas diri dari perawatan dokter. Semua produk sudah habis, kecuali sunblock yang memang jarang saya gunakan karena saya lebih suka menggunakan BB Cream sebagai makeup based dan krim malam dan masih banyak. Untuk cleanser, toner, sabun, dan krim pagi sudah ludes. Hasilnya? Memang ada browning effect seperti yang disebutkan dalam beberapa artikel dokter kulit, kulit wajah tidak secerah sebelumnya, karena memang kulit kita hanya bisa dicerahkan paling cerah selevel dengan kulit paling putih di tubuh kita seperti kulit paha, kulit lengan bawah, atau kulit di bawah leher. Tapi cerah yang saya dapatkan hasil dari chemical peeling bukan kulit cerah berwarna kuning langsat atau sawo, tetapi agak kemerahan. Nah, ini cerah yang agak dipaksakan. Saya sebelumnya tidak tahu kalau krim di LBC ternyata bentrok dengan produk-produk lain. Itulah kenapa dokter di Klinik selalu menyarankan kalau mau pakai sabun produk luar, pakai sabun bayi saja. Tapi kalau untuk jenis kulit saya yang berminyak, sabun bayi tidak mempan lagi. Saya beralih kembali ke produk Sariayu untuk menetralkan kulit, namun masih menggunakan krim malam karena saya pikir tanggung, nah ternyata bentrok dan mulai muncul jerawat kecil-kecil di dekat rambut, bagian yang sering tertutup rambut poni atau rambut di bagian jambang. 

Apakah Chemical Peeling diperlukan?
Saya bukan dokter, hanya konsumen yang suka perawatan cantik. Namun, segala yang berlebihan itu tidak baik pastinya. Mungkin sesekali tidak menimbulkan efek negatif, tapi jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan efek kemerahan pada wajah, kulit sensitif, iritasi, pengelupasan kulit yang sangat cepat, ketergantungan pada krim tertentu. 

Jadi, butuh atau tidak sih kita ke Klinik Skin Care?
Butuh itu bukan sekedar pingin. Apalagi untuk usia dibawah 25 tahun, coba dipikir beberapa pertimbangan:

1. Seberapa jauh kebutuhan kulit akan perawatan dari dokter?
2. Apakah ada kerusakkan seperti iritasi kulit yang membahayakan?
3. Apakah sudah benar-benar putus asa dengan jerawat?
4. Apakah sudah mengetahui tipe kulit dan memilih produk perawatan yang cocok untuk kulit kita?

Saya pikir menggunakan produk perawatan yang pas untuk kulit kita itu sangat penting *telat nyadar banget udah tua gini* seperti kulit normal-kering, normal-berminyak, normal-sensitif, berminyak-berjerawat. Jangan asal coba-coba dan menyesal seperti saya yang awalnya hanya normal-berminyak dan sekarang jadi berminyak-berjerawat.

Saya bahas sedikit jenis-jenis kulit yang saya dapat dari kakaknya Annisa, kak Rosma sang konsultan Oriflame (padahal sendirinya konsultan tapi masih butuh konsultasi):

1. Kulit Normal-Kombinasi
Jenis kulit ini cenderung cocok menggunakan perawatan untuk kulit normal. Sebenarnya kulit jenis ini kulit normal dan hanya berminyak pada saat tertentu seperti sehabis aktivitas dan pada daerah tertentu, misalnya daerah T.  Dan terkadang terasa kering tapi pada dasarnya normal. 

2. Kulit Normal-Kombinasi Sensitif
Kulit jenis ini juga tidak memproduksi minyak berlebih, namun sensitif seperti mudah merah ketika terpapar sinar matahari, menunjukkan gejala seperti alergi kulit, misalnya timbul bintik-bintik merah pada kulit. Kulit jenis ini baik menggunakan produk mengandung lidah buaya atau kerennya Aloe Vera.

4. Kulit Normal-Berminyak (Oily Skin)
Tipe kulit seperti ini menggunakan rangkaian perawatan untuk kulit berminyak dalam rangka mengontrol minyak berlebih, menggunakan produk mengandung tea tree atau lemon.

5. Kulit Berminyak-Berjerawat
Tipe kulit yang satu ini menggunakan rangkaian perawatan anti acne. 

Pesan dari kak Rosma: menggunakan produk perawatan kulit harus yang tepat dengan jenis kulit, maka kenalilah kulit wajahmu terlebih dahulu, seperti kita sakit batuk ya harus dengan obat batuk bukannya dengan obat sakit pilek. Hehe yaa benar juga kata kak Rosma.

Awalnya saya tertarik mencoba produk Wardah karena sepertinya netral di kulit dan bahan kimianya tidak tinggi kadarnya, tetapi saya disarankan menggunakan produk tea tree. Produk yang mengandung tea tree ini dapat ditemukan dalam produk Oriflame dan The Bodyshop, ini sependek pengetahuan saya. Saya mempertimbangkan pembelian produk ini yang mudah saya dapatkan, karena ketika habis tidak kelabakkan carinya. Saya kurang suka kalau pengiriman barang online shop berupa produk kecantikkan atau obat. Saya kurang percaya dengan ekspedisi yang ada dari sepanjang pengalaman saya, tidak ada yang menjamin perlakuan barang selama dalam perjalanan apalagi kalau saya sekarang di Sumatra menyebrang pulau, apakah terpapar panas, dibanting, ditimpah. Kalau itu sejenis CD atau buku yang rusak memang hanya bisa mengelus dada, tapi kalau produk kecantikkan siapa yang tau kandungannya berubah? Apalagi makeup. Bisa rusak pecah deh :D. Karena di lampung tidak ada hanya ada The Bodyshop yang bisa ditemukan di beberapa mall, saya memutuskan mencoba The Bodyshop, walau memang sedih karena agak jauh lebih mahal daripada Oriflame, hiks. T,T Tapi kalau worth it ya gapapa deh, sembari dimix sama Sariayu/Wardah. Oh ya, produk The Bodyshop ini animal-free lho, jadi against animal testing, sensitif banget saya soal hewan.

Intinya dari perawatan kulit itu sabar. Tidak ada hasil instan dengan menggunakan produk yang aman apalagi 5-7 hari, itu patut dicurigai. Karena proses pergantian sel kulit selama 28 hari, nah kalau bisa lebih cepat dari itu berarti apa dong? Dan untuk yang sedang berlepas dari krim dokter, biasanya ada efek seperti munculnya spot hitam, efek browning karena mengembalikan lapisan kulit, dan merah-merah. Saya sendiri kulit menjadi merah dan berminyak sehingga terkesan kusam, serta munculnya jerawat kecil di daerah tertutup rambut/kerudung sepertinya efek dari krim LBC yang 'bentrok' dengan produk lain tadi yang lantas saya lepas semua produk LBC. Kalau salah seorang teman saya yang juga saya minta sarannya, temannya yang menggunakan Natasha malah berefek hitam-hitam lebih parah dari yang berlepas dari LBC. Sedangkan teman saya yang perawatan di Larissa juga mulai muncul lagi jerawatnya, tapi tidak ada tuh efek lebay selain jerawat yang mungkin memang kulitnya berjerawat. 

Kalau tetap masih ingin ke Klinik karena bingung memilih produk tanpa efek?
Saran saya? Menurut saya yang mudhorotnya paling kecil itu ya yang kembali ke alam, mungkin yang katanya natural, yaitu Larissa. Produk perawatan Larissa milik teman saya berupa krim malam yang lumayan ribet karena ada namanya kandungan belerang digunakan setengah jam sebelum tidur lalu dicuci dan menggunakan krim lainnya yang lengket dan baunya juga agak-agak 'natural' gitu. Tapi facialnya agak seram teman-teman karena mungkin tidak menggunakan anti iritasi dari bahan kimia, jadi berdarah-darah gitu. -_- Ini dulu alasan kenapa tidak mau ke Larissa. Tapi memang kalau lagi banyak jerawat meradang saya tidak mau difacial, di klinik manapun pasti tetap sakit. Karena takut dan memang cemen dan after effectnya teman tidak parah seperti klinik yang lainnya. Tapi efek yang didapat setiap individu akan penggunaan produk perawatan bisa berbeda-beda, tergantung orangnya. Seperti teman saya tidak cocok perawatan di LBC dan akhirnya ke Rachel, sedangkan saya cocok di klinik kecantikan manapun.

Terima kasih sudah membaca postingan saya kali ini. Sekali lagi tulisan ini tidak ada maksud untuk menjelekkan pihak manapun, hanya berupa review kurang berbobot dari anak gadis yang suka coba-coba. Terima kasih untuk kak Rosma, Bontang, dan Andika yang meladeni kerewelanku. Karena yang tidak boleh coba-coba itu untuk anak saja. *abaikan* Have a good day, girls! :)

9 komentar

  1. halo kakak
    saya baru tiga bulan makek LBC tapi kepengen berhenti karna takut kecanduan, penetralan wajah untuk pindah ke produk herbal biasanya berapa hari ya?

    makasih banyak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sepemahaman saya kalau mau berhenti itu sekitar 1 - 2 minggu tidak menggunakan produk apapun. Baru beralih mbak

      Delete
    2. iya, saya cukup break out di kening dan ibu saya break out cukup parah saat itu. biasanya kalau saya setelah penggunaan krim dokter saya jeda 1 sampai 2 bulan.

      Delete
  2. Setau saya larissa blmm ada di lampung hehehe?
    Jadi harus nunggu 25 dulu baru ke dokter kulit???

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, belum ada kok.. itu keputusan diri sendiri ya apakah dirasa perlu dan pertimbangkan juga efek samping dan kandungan produk produk yang diberikan oleh dermatologist. kalau saya sendiri sih cukup menyesal karena terlalu lama menggunakan produk dokter yang mengandung steroid dan berefek kulit saya sensitif saat sekarang berumur 26 tahun

      Delete
  3. Wah sy br bca artikelnya yg sdh 2thn silam.. tp bermanfaat skli utk yg bru pgen nyoba2 kosmetik. Bljar itu lbh baik dr pengalaman org lain drpd nyoba sndri dan slah langkah krn menyesal itu gk enak banget rsnya..
    Syukur sy dger bget kt ortu2 jadul n dlu2.. kl prwtan wjah atau ppun pk sja yg alami itu lbh baik.. dan sy hy berani pk produk lokal dr tumbuh2an spt viva,sari ayu dan mustika ratu pun hrganya terjangkau utk pelajar pd jman itu. Maskernya pun cm bedak beras dan bengkoang yg diparut,timun,tomat yg ada di dapur. Alhmdllah wjah sy bersih putih wl gk glowing dan gkprn jerawatan. Prn jg jrwtanpun krn pk produk yg ada dipasaran spt p*nds,b*ore,dll akhrnya lgsg brnti n balik k produk semula jrwat lgsg ilang. Alhmdllh d usia 30 wjah sy msh kenyal,putih,pori2 kecil dan mulus wlau gk glowing.. cm syg ada bintik2 hitam sdkit n kecil2 dsktar pipi mgkin akibat dlu prn jg pk krim kyk yg mgndung bhan yg tdkbaik krn kurangnya pengetahuan.. baiknya utk prwatan apapun itu pkailah yg brsal dr bhan2 alami dr alam akan lbh awet cantiknya😘..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, saya juga dulu akibat krim gajebo dari ibu saya yang efek sampingnya membuat jerawat bermunculan dan harus ke dokter kulit. saya sekarang menggunakan perawatan yang ada di pasaran dan ber bpom serta tertera ingredientsnya seperti yang di apotek atau counter counter resmi. kalau bisa sih yang alami lebi baik hehe.. terimakasih sudah berkunjung.

      Delete