Pengecut!


Gemericik air tumpah di atas lantai ubin berwarna biru gelap menyadarkanku
Memaksaku meletakkan kembali kemasan krim rambut yang sedang aku baca
Memutar keran memastikan tidak ada lagi air yang terbuang
Melangkah kembali ke dalam ruangan di balik pintu
Ruangan dengan pintu hijau, daun jendela hijau, tirai hijau
Nuansa hijau yang redup
Bahkan warna hijau bukanlah warna yang aku sukai
Hanya saja tidak ada kesempatan untuk memilih
Kembali ke dalam kamar ini
Walau hanya pergi selangkah ke dalam ruangan dingin di balik pintu itu
Menatap layar dengan nanar
Ada satu nama yang menarik perhatianku
Satu nama yang telah lama aku rindukan
Seperti ada dorongan, ingin memanggil namanya, walau dari kejauhan
Bolehkah aku bicara padanya?
Pantaskah aku menyapanya?
Masih maukah ia bicara padaku?
Ah, ekspresi pengecutku ini tidak akan bisa terlihat olehnya di dunia maya ini
Tapi apakah ia akan merasakan aura pengecut keluar dari ucapanku?
Nama yang selalu aku rindukan
Akhirnya hanya mengulang cerita lama
Akhirnya hanya membuang waktu
Menatap lamat namanya tanpa bicara sepatah katapun
Dan aku menyadari kebodohanku
Nama yang aku tatap lamat selama beberapa menit itu menghilang
Ini cerita lama yang selalu berulang hampir setiap harinya
Dan akhirnya aku seorang yang pengecut
Mungkin makhluk hidup mungil yang aku pelihara
Mereka memiliki keberanian jauh di depanku
Bahkan menegaskan jalur kehidupan sendiri pun tak bisa
Mengikuti cerita orang, jalan hidup orang lain
Kalau hidup ini lautan
Dan aku adalah sebuah kapal
Maka ada yang mengendalikan setir kapalku
Nahkoda yang egois berdiri di atasku 
Sungguh aku tidak punya hak 
Hak untuk merindukan sosok hebat
Hak untuk mendambakan bisa berdiri di sampingnya
Bahkan hak untuk menyebut namanya
Karena seorang pengecut sepertiku 
Yang bahkan takut kedua kakinya basah terkena genangan
Tidak cukup pantas berjalan di atas impiannya sendiri
Apalagi merindukannya 

0 komentar