a head full of patience


Ketika meminta pengertian kepada pribadi yang egois rasanya sama percumanya dengan meminta rasa rindu kepada orang yang pelupa. Meminta orang yang keras kepala untuk merubah keputusannya itu sama rasanya dengan meminta daging dari mulut harimau. Menahan ucapan orang yang mudah marah mirip seperti menyuruh macan yang sedang kelaparan di hutan untuk tidak menerkam mangsanya.

Sebelum mengkritisi orang lain ada keharusan untuk bercermin dahulu. Tapi coba dicek, apakah si cermin yang akan digunakan itu retak atau tidak.

Saya egois, egois banget. Saya egois, maunya selalu diajak ga suka kalau ditinggal-tinggal. Saya juga keras kepala. Ketika sudah memiliki keputusan, pendapat orang lain seperti angin lalu, percuma dibujuk. Saya juga mudah sekali marah, marah sekali ketika hal yang berkaitan dengan harga diri keluarga diusik orang lain.

Mudah sekali melihat koreng milik orang lain, sedangkan borok di lutut sendiri tidak terlihat. Tau kan rasanya, menerka, meraba, dan mencari kesalahan orang lain itu mudah sekali. Mungkin cermin kita sedang berembun. Lihat itu, bayanganku sendiri. Hei apa itu? Tidak ingat kapan terakhir kali mendatangi salon rambut dan dokter gigi. Bayangan orang lain di atas bumi masih begitu mulus dibanding pantulan bayangan dalam cermin itu. 

Ada satu kata sandi yang tepat dalam segala keadaan. Sabar. Kesabaran yang perlu lebih ditingkatkan lagi. Apa? Sabar? Iya, jangan sampai tahap sabarnya hanya menahan amarah, lantas ngedumel dalam hati. Sabar, jangan sampai ada setitik noda emosi atas hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Sabar, bukan berarti menahan luapan emosi, lantas suatu hari si emosi ini meledak-ledak seperti bom waktu. Sabar berarti harus ikhlas dan legowo. Kata siapa orang yang mudah meluapkan emosi itu lebih tenang sedangkan orang yang menahan diri malah jadi jerawat? 

Ah, sudahlah. Ini waktunya untuk terus berusaha jadi orang baik, bukan 'orang baik' dalam tanda kutip hanya karena aib-aib saya ditutup Allaah.

Why don't we grab a cup of warm rosella tea?

0 komentar